KEHENDAK
UNTUK BERKUASA DAN MANUSIA UNGGUL
Filsafat
Friederich Nietzche
Frederich Nietzche atau yang biasanya disebut
Nietzche. Ia dilahirkan oleh keluarga yang taat akan agama. Ayah Nietzche
adalah seorang pendeta terkemuka dan ibunya adalah penganut Kristen yang taat.
Kematian ayahnya yang relatif muda, membuat pola asuh ibunya lebih dominan.
Nietzche dididik dala atmosfer yang penuh kehalusan dan kelembutan seorang
wanita. Nietzhe sangat suka menyendiridan membaca alkitab. Dalam Nietzche, ia
memiliki semangat, kehormatan, dan kebanggaan. Seluruh hidupnya dihabiskan
untuk mencari “perlengkapan” fisikal dan intelektual, agar maskulinitas yang
diidealkannya semakin kokoh dan kuat.
Nietzche mengembangkan filsafat etika
berdasarkan teori evolusi. Baginya hidup adalah perjuangan untuk bereksistensi,
dimana organisme yang paling pantas untuk hiduplah yang berhak untuk terus
melangsungkan hidupnya. Maka kekuatan adalah kebajikan yang utama dan kelemahan
adalah keburukan yang memalukan. Hidup adalah medan laga tempat seluruh makhluk
hidup bertarung agar terus bisa melangsungkan hidupnya. Dalam kehidupan, kita
tidak membutuhkan kebaikan melainkan kekuatan, kebanggaan diri dan kecerdasan
yang amat sangat tajam.
Pada usia kedelapan belas ia kehilangan kepercayaan
pada Tuhan, dan menghabiskan sisa hidupnya untuk mencari tuhan yang baru. Ia
menemukan Tuhan yang baru dalam Manusia Unggul.
KEHENDAK
UNTUK BERKUASA DAN MANUSIA UNGGUL
1. Moralitas
Dalam kesepiannya yang mencekam Nietzche menulis
beberapa naskah yang kemudian dikumpulkan dalam dua buah judul: Beyond
Good and Evil (1886) dan The Genealogy of Moral (1887). Dalam kedua buku
tersebut ia bermaksud untuk menghancurkan moralitas lama dan mempersiapkan
jalan untuk moralitas Manusia Unggul.
Di balik semua “moralitas” tersebut adalah
kehendak rahasia untuk berkuasa. Rasio dan moralitas tidak bernaya melawan
nafsu untuk berkuasa. Rasio dan moralitas hanyalah senjata yang digenggam nafsu
dan menjadi barang mainannya. Rasio dan moralitas adalah keinginan yang
tersembunyi yang merupakan
hentakan-hentakan dari kehendak untuk berkuasa yang menentukan pikiran kita.
Etika yang sejati bersifat biologis. Kita harus
menilai segala sesuatu berdasarkan pada maknanya untuk hidup. Kita membutuhkan sesuatu lintas penilaian yang
bersifat fisiologis terhadap semua nilai yang ada. Ujian nyata bagi setiap
manusia adalah energi, kemampuan, dan kekuasaan.
2. Manusia Unggul
Sebagaimana moralitas tidak terletak pada
kebaikan, demikian juga tujuan dari kerja keras manusia bukanlah demi
peningkatan kualitas hidup umat manusia, melainkan demi perkembangan
individu-individu unggul yang lebih baik dan lebih kuat.
Manusia Unggul dapat hidup dan bertahan hanya
melalui seleksi manusia, melalui perbaikan kecerdasan, dan pendidikan yang
meningkatkan derajat serta keangungan individu. Manusia Unggul tidak dilahirkan
oleh alam.
Calon Manusia Unggul yang baru lahir membutuhkan
peningkatan kecerdasan. Diperlukan pendidikan yang keras, di mana kesempurnaan
merupakan materi utamanya, dan “tubuh dilatih untuk menderita dalam keheningan
yang diam, sedangkan kehendak dilatih untuk memerintah dan mematuhi perintah”
Energi, intelek dan kehormatan atau kebanggaan
diri membuat manusia unggul. Namun semuanya harus selaras: gairah akan menjadi
kekuatan, hanya jika mereka dipilih dan dipadukan oleh suatu tujuan yang besar,
yang mampu membantuk berbagai keinginan yang masih kabur ke dalam kekuatan satu
kepribadian. “kesengsaraan bagi para pemikir ibarat tanah subur bagi tanaman”.
Hal yang paling baik adalah mendisiplinkan diri,
berbuat keras terhadap diri sendiri.”Manusia yang tidak ingin menjadi komponen
massa, berhentilah memanjakan diri sendiri”. Kita harus keras dengan orang lain,
tetapi terutama pada diri kita sendiri; kita harus mempunya tujuan dalam
menghendaki apa saja, kecuali berkhianat pada teman sendiri. itulah tanda
kemuliaan, rumus akhir Manusia Unggul.
3. Dekadensi
Dekadensi adalah kemerosotan atau kemunduran
akhlak. Demokrasi harus dilenyapkan sebelum terlambat. Langkah pertama adalah
menghancurkan kristianisasi karena kemenangan Kristus adalah permulaan
Demokrasi: “Tujuan Kristus adalah berontak terhadap orang-orang yang memperoleh
hak istimewa; ia hidup dan berjuang untuk kesamaan hak”.
Setelah Eropa ditaklukan oleh Kristianisasi,
berakhir sudah aristokrasi kuno dan dibanjirilah Eropa oleh para bangsawan
perang Jerman yang membawa pembaharuan tentang kebajikan maskulin, serta
menanamkan akar-akar aristokrasi modern. Mereka tidak dibebani oleh moral dan
bebas dari pembatas-pembatasan sosial. Mereka lah yang merupakan sumber
lahirnya para penguasa yang hebat untuk Jerman, Rusia, Perancis, Inggris,
Skandinavia, dan Italia.
Akan tetapi “wadah” yang yang menyediakan dan
menyimpan para pemimpin besar tersebut telah dirusak, pertama oleh sanjungan
Katolik pada kebajikan perempuan, kedua oleh cita-cita Puritan dan Reformasi,
dan ketiga oleh perkawinan campuran dengan manusia-manusia lemah dan imperior.
Reformasi menghancurkannya kristenisasi dengan menghidupkan kekakuan dan
kehitmatan Yahudi.
Maka, dekadensi terjadi di mana-mana.
Protestanisme dan bir telah membuat tumpul kecerdikan bangsa Jerman. Di
Perancis misalnya, tampak setelah terjadinya Revolusi. “ Kemuliaan cita rasa,
perasaan, dan tata cara bangsa Eropa merupakan hasil karya bangsa Perancis.
Tetapi itu semua berasal dari Perancis yang lama (abad ke-16 dan 17). Revolusi,
dengan jalan memporak-porandakan aristokrasi, berarti menghancurkan wadah dan
benih kebudayaan. Sekarang roh Perancis jadi redup dan pucat-pasi dibadingkan
sendan sebelum-sebelumnya”.
4. Aristokrasi
Jalan menuju Manusia Unggul tidak bisa lain
adalah melalui aristokrasi. Aristokrasi adalah bentuk pemerintahan yang berada
di kelompok kecil atau yang berkuasan. Demokrasi adalah penyimpangan. Demokrasi
merupakan izin yang diberikan pada setiap bagian dari organisme untuk melakukan
apa saja yang disukainya. Demokrasi berarti pemujaan pada “orang kebanyakan”
dan kebencia pada “orang-orang unggul”. Demokrasi juga berarti ketidakmungkinan
lahirnya Manusia Unggul dan bangsa-bangsa besar.
Feminisme adalah akibat langsung dari demokrasi
dan kristianisasi. Emansipasi atau kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki
adalah tidak mungkin karena perang antara perempuan dan laki-laki tidak akan
pernah ada akhirnya. Perdamaian bisa tercipta hanya kalau yang satu atau yang
lain menjadi penguasa. Bersama feminisme datanglah sosialisme dan anarkisme,
yang tidak lain adalah sampah demokrasi.
Persoalan politik yang sebenarnya adalah
bagaimana menghindari penguasa menjadi pemimpin, menjadi orang yang mengatur.
Pengusaha mempunya pandangan yang pendek dan pikiran yang sempit. Mereka tidak
seperti para aristokrat yang dilatih untuk menjadi negarawan, yang berwawasan
luas dan pemikiran yang dalam. Jadi merekalah para pengusaha yang sebutlnya
mempunyai hak untuk mengatur, untuk menjadi penguasa.
SUMBER :
Abidin, Zainal. 2011. Filsafat Manusia. Memahami Manusia Melalui Filsafat.Bandung. PT. Remaja Rosdakarya
http://www.kompasiana.com/igaayu/konsep-manusia-pemikiran-nietzsche_552e59cf6ea83440508b457a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar